Buah Karya
TSARA AZIZAH
(23 Juni 2012)
Terpaku ku disini
Bagai memandang potret diri
Tak berwarna, diantara yang lebih bercahaya
Bersembunyi di bawah rimbun yang lebih berwibawa
Meneduhkan banyak mata jiwa
Tak terpilih, bagaimana ingin dipilih
Tak terbagi kasih, berharap bertumpuk kasih
Angin sore tak bertuan,
Sudikah engkau singgah di tumpuan
yangkubuat dengan segala harap?
hanya sekedar menanti tak bisa terbang kembali
walaupun hanya sepoi
mungkin busa berwujud badai
yang berada diatas nadir
dan menguasai takdir
Bukan tertinggal bahkan berakhir?
mungkin anganku seperti awan
yang terkadang menggumpal, berwujud indah, menyejukan mata, memberi decak kagum.
Namun mungkin seperti hamparan kapas yang rapuh, tergontai dinahkodai angin,
kesana kemari..
tapi, ingin ku berakhir hujan,
yang ingin memberi hidup pada yang hampir memandang ajal,
menyejukan bumi yang kerontang,
dan berakhir tenang di samudera harapan,
tenang, hingga tak terusik dibom angan- angan.
(ditulis kembali oleh Hendri Mulyawan pada 04 Maret 2015)
Tak terpilih, bagaimana ingin dipilih
Tak terbagi kasih, berharap bertumpuk kasih
Angin sore tak bertuan,
Sudikah engkau singgah di tumpuan
yangkubuat dengan segala harap?
hanya sekedar menanti tak bisa terbang kembali
walaupun hanya sepoi
mungkin busa berwujud badai
yang berada diatas nadir
dan menguasai takdir
Bukan tertinggal bahkan berakhir?
mungkin anganku seperti awan
yang terkadang menggumpal, berwujud indah, menyejukan mata, memberi decak kagum.
Namun mungkin seperti hamparan kapas yang rapuh, tergontai dinahkodai angin,
kesana kemari..
tapi, ingin ku berakhir hujan,
yang ingin memberi hidup pada yang hampir memandang ajal,
menyejukan bumi yang kerontang,
dan berakhir tenang di samudera harapan,
tenang, hingga tak terusik dibom angan- angan.
(ditulis kembali oleh Hendri Mulyawan pada 04 Maret 2015)

0 komentar:
Posting Komentar